Studi Sejarah di PG Tasik Madoe dan Agrowisata Sondo Koro

Pada tanggal 12 Juni 2008 Boarding School MAN 1 Surakarta mengadakan kegiatan Outdoor  Class dengan obyek di PG Tasikmadu dan Agrowisata Sondokoro. Kegiatan ini merupakan program tahunan dari Boarding School MAN 1 Surakarta sebagai sarana untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman siswa terutama tentang obyek-obyek sejarah dan pendidikan. r0046315PG Tasikmadu dijadikan obyek kegiatan memiliki tujuan agar siswa memiliki pengetahuan tentang proses pembuatan gula , mulai dari tanaman tebu hingga penggilingan serta pengepakan gula. Siswa dalam kegiatan ini banyak mendapat pengetahuan yang selama ini belum mereka dapatkan khususnya tentang pembuatan gula. Bahkan mereka dapat mengetahui apa ciri-ciri gula yang asli dan yang tidak asli. Di halaman depan terdapat Gerbong peninggalan Mangkoenegoro IV saat mengadakan kunjungan ke PG Tasikmadu untuk mengecek kondisi pabrik dan pekerja. Gerbong itu sampai sekarang masih terawat bahkan konon menurut beberapa pegawai, pada malam-malam tertentu mengeluarkan suara mesin kereta api.

PG Tasikmadu dirikan pada tahun 1870 pada masa pemerintahan Mangkoenegoro IV. Seperti kita ketahui, pada masa Mangkoenegoro VI banyak membangun pabrik-pabrik gula di sekitar Solo. Keberadaan PG Tasikmadu masih eksis hingga sekarang bahkan mampu menghidupi masyarakat sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pesan yang disampaikan Mangkoenegoro IV saat pembangunan PG Tasikmadu :

Pabrik iki openono, senajan ora nyugihi, nanging nguripi, kinaryo papan pangupo jiwone kawulo dasih. (Pabrik ini peliharalah, meskipun tidak membuat kaya, tapi menghidupi, memberikan perlindungan, menjadi jiwa rakyat kecil).

Demikianlah pesan KGPAA Mangkunegara IV, satu-satunya pribumi yang menggagas keberadaan pabrik gula (PG). Visinya tegas! Keberadaan PG demi penghidupan rakyat kecil, misinya pun jelas, sebab PG di mana saja adalah proyek padat karya.

Ratusan hingga ribuan orang, mulai mekanik mesin, masinis lokomotif tebu, sopir truk, hingga pembabat tebu adalah serpihan faktor produksi sebuah PG yang menggantungkan hidupnya di situ. Mengepulnya asap dapur, di samping keberlanjutan ekonomi daerah, mau tak mau turut dipengaruhi sebuah PG.

Bicara tentang sejarah keemasan Mangkunegaran, maka keberadaan PG Colomadu yang didirikan 1861, dan PG Tasikmadu yang berdiri sepuluh tahun setelahnya menjadi bagian tak terpisahkan. Singkap selubung kotak seng yang tersembunyi di belakang kantor Administratur PG Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, maka sebuah gerbong kereta bercat hijau buatan S Chavalier Constructe, Paris-Perancis, yang biasanya digunakan Mangkunegara IV untuk meninjau rakyat, menjadi saksi bisu zaman keemasan ini.

Memasuki bangunan utama pabrik yang bertuliskan PG Tasikmadoe maka lampu hijau diatas gerbang utama, serta asap putih yan
g mengepul dari cerobong utama PG, menjadi penanda aktifnya pabrik.

Sekitar 670 pekerja tetap dan kurang lebih 3.000 pekerja musiman PG memulai kembali kerja kerasnya selama tiga bulan musim panen raya tebu 2004, sedangkan mesin-mesin utama PG yang diproduksi Machinefabriek Gebr Stork & Co pada tahun 1926 dengan p

erkasanya mulai bekerja kembali. Bukan hanya menggiling tebu, tapi juga memasak, mencampur, dan mengkristalkan cairan tebu menjadi gula.

BAU kolonial –yang tak selalu harus berkonotasi negatif -ajaibnya masih tercium kental di PG ini. Panggilan administratur bagi kepala PG, masinis bagi kepala teknik PG, merupakan kultur sehari-hari yang belum terkikis modernisasi.

Bila Anda berdialog tentang nira atau gula kristal putih-hal demikian akan percuma, sebab pekerja PG takkan tahu hal itu. Bagi mereka nira adalah sap, gula kristal putih adalah superior hoof suiker (SHS), dan tebu adalah riet.

Bila Anda menanyakan di mana kepala pengolahan PG kepada pekerja pabrik, mereka akan bingung karena

mereka biasa memanggilnya dengan Pak FC atau fabrikaat chef -atau dokter gula- demikian sebagian petani tebu menyebutkannya.

Bukti zaman keemasan gula Indonesia masih terekam dari peninggalan yang ada. Rumah tua administratur, lengkap dengan seperangkat gamelan dan meja biliar tua, lantas pedang-pedang tahun 1800-an dengan pelindung tangan, masih tersimpan di rumah satpam. Menurut asisten masinis Edi Suroso, turis-turis asing yang menyambangi PG ini, bahkan sering berupaya membeli alat-alat produksi PG bukan untuk mengolah tebu melainkan sebagai barang koleksi.
Hampir semua alat pro

duksi nyaris tidak tersentuh pergantian zaman. Secara konkret hanya mesin utama pabrik yang direnovasi di tahun 1988/1989, lainnya tidak! Sekitar lima lokomotif tua dengan beban maksimal 24-30 lori, juga masih berseliweran, menaikkan tebu dari crane tebu di sisi selatan pabrik, lalu memasukkannya ke pelataran sisi timur PG.

Bukan main-main, loko tebu dengan mekanisasi ketel uap dan berbahanbakarkan ampas tebu (bal), ada yang berangka tahun 1910-an. Ambil contoh, loko nomor III berkekuatan 80 PK (paardekracht, tenaga kuda) diproduksi Orenstein & Koppel Arthur Koppel AG Berlin-Germany tahun 1913, serta loko nomor X berkekuatan 150 PK diproduksi .

WALAU demikian, Administratur PG TOrenstein & Koppel AG Berlin-Germany tahun 1929 Tasikmadu, Karanganyar, menolak mentah-mentah kalau PG ini dikatakan tidak mampu lagi bersaing mengolah tebu karena uzurnya alat produksi. “Kapasi

tas mesin giling kami sekitar 1.500 ton tiap hari sehingga menurut perhitungan dapat diberdayakan untuk memproduksi 450.000 ton tebu pada musim panen. Tapi, pada kenyataannya PG Tasikmadu kami proyeksikan di tahun 2004 hanya mengolah maksimal 350.000 ton tebu,” katanya merujuk pada penurunan produktivitas dan produksi tebu dari petani.

Kini, kurangnya produksi tebu membuat pabrik ini tidak lagi memancarkan auranya. Hal sederhana, batang-batang tebu yang masuk pun, tidak berwarna hijau segar, melainkan cokelat kering.

r0046316

PG Tasikmadu, yang pada awalnya sekitar tahun 1870 dibaptis dengan nama PG Sudokoro oleh Mangkoenegara IV juga menggantungkan diri sepenuhnya pada kemurahan hati petani. Sebab, dengan besaran lahan tebu PG Tasikmadu kurang lebih 5000 hektar, dari besaran lahan itu, hanya tujuh persen yang dimiliki PG, sisanya 93 persen dimiliki petani.

Sebelum tahun 1997, PTPN IX mempunyai 13 PG, namun selain karena kekurangan biaya operasional, lima dari ke-13 PG ini yakni PG Cepiring (Kendal), PG Banjaratma (Brebes), PG Colomadu (Karanganyar), dan PG Ceperbaru (Ceper-Klaten) juga ditutup karena kekurangan bahan baku.

Sedangkan, delapan PG yang masih beroperasi ialah PG Tasikmadu (Karanganyar), PG Jatibarang (Brebes), PG Pangkah (Tegal), PG Sumberharjo (Pemalang), PG Sragi (Pekalongan), PG Mojo (Sragen), PG Gondang Baru (Klaten), dan PG Tersana Baru (Brebes). Akankah Tasikmadu bertahan ataukah harus ditutup?

Demikian sepenggal kisah  perjalanan Studi Sejarah PG Tasikmadu oleh Program Boarding School MAN 1 Surakarta, semoga bermanfaat bagi semuanya. Sampai jumpa pada kegiatan outdoor class tahun berikutnya.

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on Juni 30, 2008, in Info Terbaru Boarding. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Thomas Yoga Alfanio

    Kawan-kawan ada yang tau alamat lengkap atau no telpon atau no fax dari PG Tasikmadu yang bisa kami hubungi??kebetulan kami juga berencana ingin melakukan kunjungan industri disana..

    please reply ASAP..
    thanks

  2. saya punya no. telp PG. Tasikmadoe :
    0271495562

  3. makasih ya atas informasi sejarahnya…

  4. From this viewer’s viewpoint, it turned out only a couple of time before Fox took advantage of just one more television series resurrection, depending on the resounding resurgence with the massively popular “Family Guy”. Many individuals take a little little bit of time after the New Year festivities have ended to upgrade and organize parts of our lives. It much less expensive expensive for make than its original counterpart, reducing in fat, too.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: